Apa Boleh Buat Jika Harus Bercerai


Bercerai

Beberapa tahun yang lalu di Indonesia dan majalah-majalah populer terlihat lagi trend membicarakan masalah perceraian, khususnya para artis kelas atas. Misalnya saja Desy Ratnasari yang baru menikah sudah masuk di dalam persidangan dan gugat cerai terhadap suaminya. Lalu muncul lagi penyanyi Renold Pangabean yang juga mau bercerai dengan istrinya, padahal istri yang ini sudah merupakan istri yang kedua setelah yang pertama Camelia Malik. Lalu adalagi yang katanya pendeta menyiksa dan memukul istrinya Nur Afni Oktavia, merreka cerai dan si “pendeta” di penjara samapai saat ini. Masih banyak lagi berita-berita perceraian yang tentunya tidak dapat di pantau secara menyeluruh, itu artinya di dalam satu hari saja ada berapa ratus pasangan yang mau bercerai.

Sementara itu yang ironis banyak pula pasangan yang sedang menjalin cinta dan siap dipersatukan di dalam pernikahan. Apalagi menurut “kepercayaan orang Tionghoa” tahun ini tahun Naga Mas; semakin banyak orang berlomba-lomba menikah, banyak hokky nya

Sebenarnya, pada saat kedua insan yakni sang pria dan wanita menentukan pilihan untuk berpacaran, maka ia sudah seharusnya memperhitungkan konsekwensi yang harus dihadapi. Dengan berpacaran itu berarti ia sudah mempersiapkan diri untuk menikah, sebab tidak mungkin orang berpacaran seperti bermain-main gundu atau layangan yang ada musimnya, lalu besok lusa putus dan ganti yang baru lagi. Di luar sana orang-orang akan menertawai dan mengejek kita dengan menyebutnya “piala bergilir” bagi wanita atau “play boy” bagi yang pria. Nah, dengan adanya konsekuensi demikian maka mereka yang berpacaran adalah mereka yang sudah cukup umur atau dewasa, sudah bekerja atau mencari nafkah, jangan yang setiap mau keluar rumah masih minta uang pada orang tua, itu namanya “Cinta monyet”. Ketika saya masih remaja saya pernah mendengar sebuah lagu pop sekuler yang berjudul “Cinta Monyet”, isinya kira-kira demikian: “Malam Senin mulai bertemu, malam Selasa datang bertamu, malam Rabu terus merayu, malam Kamis Darling I Love you, dalam Jumat terima surat yang isinya cinta ditolak, malam Sabtu sendiri lagi, malam Mingu mencari ganti.” Orang yang sungguh-sungguh berpacaran tidak demikian, ia sudah mulai memikirkan masa depan dengan matang.

Jaman sekarang adalah jaman modern dan sekaligus jaman gila-gilaan, saya sering melihat anak-anak remaja yang masih SMP sudah berpacaran. Lalu kalau ditanya kapan menikah, pada umumnya mereka tidak bisa menjawab; karena akan tunggu selesai kuliah, lalu kalau sudah selesai kulian masih menunggu untuk mencari kerja dan sebagainya. Belum lagi karena labilnya kaum remaja maka ditengah jalan berpacaran sering kali berakhir dengan putus cinta hanya karena ada yang lebih tampan dan cantik atau yang lebih kaya, lalu merekapun stress dan frustrasi bahkan ada yang mencoba bunuh diri. Saya tidak tahu apabila kita memasuki tahun 2000 yang disebut abad 21 dan milenium baru ini, jangan kaget sebab sebentar lagi kita akan mendengar anak SD juga sudah bisa berpacaran. Pernah di muat di koran harian Surabaya seorang anak laki-laki di Amerika yang baru berusia 7 tahun menikah dengan anak wanita yang berumur 5 tahun. Bukankah dunia kita sudah penuh kebingungan. Umur 5 dan 7 tahun untuk mengurus diri sendiri saja belum tentu bisa, apalagi mengurus orang lain.

Kita semua adalah orang-orang yang berdosa; banyak daftar dosa kita tentunya, selembar catatan tidak akan memuatnya. Jangankan selembar mungkin satu rim kertaspun tidak cukup untuk mencatat dosa-dosa kita. Kemudian rasul Paulus mengatakan, lihat1 Kor 6 :11 “Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan , kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita”. Lalu timbul pertanyaan, apa hubungannya dengan Pernikahan maupun Perceraian. Apakah orang Kristen boleh bercerai? Mengapa? Lalu bagaimana jikalau sudah tidak akur lagi?

Kita harus insaf bahwa pernikahan sifatnya bukan sementara, artinya akan dibawa sampai mati. Orang yang percaya (Kristen) tentu senantiasa akan memegang prinsip Alkitab; satu Tuhan, satu Baptisan dan juga satu istri, kecuali karena kematian yang memisahkan. Ikatan pernikahan menunjuk kurun waktu selama manusia atau pasangan itu masih hidup. Perceraian dapat dianggap terjadi ketika sepasang suami-istri memutuskan untuk tidak lagi memenuhi ikatan pernikahan mereka. Walaupun kalau kita perhatikan biasanya salah satu pihak yang memperakarsai perceraian itu; tetapi keduanya menanam andil tertentu sampai terjadi perpecahan itu. Di dalam definisi lain, perceraian yaitu pemutusan ikatan nikah secara hukum, merupakan penyimpangan dari maksud Allah, tidak mendapat dukungan firman Tuhan kecuali dalam batas-batas kondisi tertentu. Perceraian adalah akibat dosa dari salah satu atau dua pihak pasangan suami-istri. Seringkali kedua pihak itu mempunyai kesalahannya masing-masing. Kesombongan dan mementingkan diri sendiri sering menambah andil pada keadaan mendorong terjadinya perceraian.

Tatkala berbicara tentang perceraian maka Yesus mengatakan bahwa Musa mengizinkan perceraian , itu semata-mata karena “ketegaran hatimu”, atau karena “tegar tengkuknya” orang-orang Israel (lih Mat 19:8). Musa tahu bahwa perceraian itu jahat, tetapi apa boleh buat. Kemudian muncul pertanyaan lagi apakah dengan demikian Tuhan Yesus menolak perceraian itu sama sekali? Sebenarnya Alkitab secara tegas menolak akan perceraian, apapun alasannya. Perhatikan dan baca Kej 2:24, lalu juga 1 Kor 7:10 bandingkan juga dengan Mal 3:15,16. Dan bahkan rasul Pauluspun tahu bahwa adalah lebih baik kalau seseorang itu “tidak kawin” 1 Kor 7:1, tetapi karena mengingat bahaya percabulan, atau godaan-godaan seksual maka “lebih baik kawin”, supaya sah dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Perhatikan ayat 6 rasul Paulus katakan ini semua sebagai suatu kelonggaran. Sekali lagi ternyata “Kawin itu juga Jahat?”, tetapi apa boleh buat? Benarkah begitu?

Perceraian diizinkan pada batas kondisi sebagai berikut, biasanya pada tahap apa boleh buat, yakni:
1. Bila teman hidup melakukan pelanggaran seks seperti perzinahan atau homoseks (Lesbian), dan tidak berniat untuk bertobat atau mencari pengampunan Allah, atau meninggalkan dosa untuk kembali setia kepada istri maupun suaminya.

2. Bila salah satu meninggalkan pasangannya, khususnya bila pasangan tidak beriman yang meninggalkan pasangannya yang percaya (lihat 1 Korintus 7:15).

3. Kasus khusus yakni mati, itu berarti pasangan tersebut tercerai secara otomatis. Kasus yang ini tentu di luar jangkauan manusia.Jikalau sebelum menerima Kristus, seseorang telah menikah dan kemudian bercerai, dia harus tetap pada keadaannya itu. Jika seseorang sempat menikah ulang, dia harus berupaya agar perkawinannya kedua berhasil. Meninggalkan pasangan kedua untuk kembali kepada pasangan yang pertama, adalah salah. Dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran. Gereja biasanya tidak melayani pemberkatan nikah kedua, artinya sebelum salah satu pasang meninggal dunia gereja tidak akan memberkati pasangan yang pernah bercerai untuk menikah; sebab ini merupakan pelanggaran janji setianya dihadapan Allah (bandingkan dengan 1 Korintus 7:39). Berpasangan dengan orang yang bukan Kristen, bukanlah alasan untuk bercerai. Sebaliknya, yang Kristen dianjurkan untuk hidup berdamai dengan pasangannya yang bukan Kristen, ia harus menjadi teladan supaya memenangkan pasangannya ke dalam iman pada Kristus ( 1 Kor 7:12-16). Di gereja banyak kaum wanita yang bersaksi bagaimana suaminya boleh percaya pada Yesus dan memperoleh keselamatannya ketika mereka sudah menikah puluhan tahun. Tuhan Yesus sedang menguji kesabaran dan ketekunan kita. Bagi orang-orang yang beriman lemah, Tuhan Yesus tahu itu dan kemungkinan besar mempercepat pasangannya percaya Yesus. Namun, bagi yang pasangannya sudah cukup lama, namun masih belum menerima Tuhan Yesus, mungkin anda adalah orang yang mempunyai iman yang kuat dan Tuhan sedang mengujinya. Sesekalai jangan mengartikan dengan Tuhan tidak mengasihi anda atau meninggalkan keluarga anada, sebab cara ini akan memperlemah iman kepercayaan anda. Sesuatu yang sangat perlu kita perhatikan adalah, orang menerima Tuhan Yesus itu tidak bisa dengan paksaan, semua itu harus melalui pengalaman pribadinya pada Tuhan dan sifatnya suka-rela dan bertahap.

Sebab-sebab sebuah Perceraian:
Alkitab tidak pernah merestui adanya perceraian, sebab perceraian merupakan suatu penghacuran terhadap janji setia pernikahan. Dalam janji nikah yang diucapkan dihadapan Allah, mereka harus sehidup-semati, baik kaya maupun miskin, baik sehat maupun sakit, baik senang maupun susah dan sebagainya. Namun kenyataannya di dunia masih ada pasangan yang melanggar janji setia itu. Beberapa alasan umum yang sering menyebabkan suatu perceraian antara lain:

A. Ekonomi
Bukankah ketika pendeta memberkati pernikahan di gereja sudah diadakan perjanjian bahkan seperti sumpah setia bahwa kedua mempelai itu akan setia sampai mati, baik dikala kaya atau miskin, sehat ataupun sakit?. Namun kenyataannya ada banyak pasangan yang menganggap janji di atas hanya sekadar janji biasa, padahal mereka sedang berjanji dihadapan Tuhan. Tidak jarang jarang kita melihat hanya masalah uang, perceraian itupun terjadi. Apakah pernikahan itu hanya karena uang?

Memang kadang kala ada pria yang kelewatan, sering kita dengar para wanita mengeluh sebab suaminya tidak mau bekerja, mabuk-mabukan lalu (maaf) main perempuan lagi. Bagaimana pernikahan kami bisa bertahan, anak-anak butuh kasih-sayang, susu dan makanan, uang sekolah dan sebagainya. kita mengalami kesulitan memaksa kelurga yang demikian supaya bersatu, tetapi sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa Tuhan sanggup mengubah seseorang, maka tidak salahnya apabila kita mendoakan mereka; bukan menyarankan supaya bercerai. Sebaliknya, mungkin Tuhan memberkati dengan limpah, lalu keluarga itu menjadi kaya raya. Sang suami atau istri mulai sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Akhirnya juga bisa terjadi perceraian karena perhatian semua dicurahakan kepada mencari uang. Itulah sebabnya ada orang yang berpendapat “Biarlah miskin tetapi keluarga bahagia”, namun bukankah alangkah baiknya pendapat ini boleh diubah “biarlah kaya tetapi keluarga tetap bahagia juga”.

B. Berselingkuh
Perselingkuhan sering terjadi mungkin karena kurangnya perhatian dari pasangan kita, karena perpisahan yang cukup lama satu dengan yang lain, dengan sekretaris atau orang sekantor dan sebagainya.. Biasanya karena sering terjadi komunikasi, baik secara langsung atau melalui telepon atau surat-menyurat. Sebagai orang percaya seharusnya hal ini tidak perlu terjadi apabila kita memberi batasan terlebih dahulu, misalnya kita harus sadar bahwa “kita sudah menikah”, lain halnya apabila masih berpacaran, masih banyak pilihan. Tetapi apabila seseorang sudah menikah maka jangan sesekali memberi kesempatan seperti itu. Demikian juga kita perlu jaga jarak terhadap wanita atau pria yang sudah menikah. Kadang kala dengan cerita penuh humor, perhatian yang terlalu mendalam, memberi hadiah dan sebagainya bisa membuat seseorang salah pengertian. Harus dijaga jaraknya, supaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Sebab apabila sudah terlanjur “cinta” maka sangat sakit dan sulit untuk dipisahkan. Bagi yang menikah ingatlah keluarag anda di rumah, dan bagi yang belum menikah anda diminta jangan merusak rumah tangga orang lain. Bukankah dunia tidak selebar daun kelor?

C. Tidak Cocok, Bertengkar terus
Sebenarnya pertengkaran atau cekcok itu wajar dalam suatu pernikahan, ada orang yang mengatakan itulah “pelangi” atau “keindahan” sebuah pernikahan. Yang penting adalah sebuah pertengkaran itu jangan lari dari masalah pokok yang terjadi. Sering kali yang terjadi di dalam pertengkaran itu tidak kunjung habis, karena masing-masing mengorek-ngorek kesalahan masa lalu. Mungkin kejadiaanya sudah 5 atau 10 tahun yang lalu, tetapi diungkitkan lagi; padahal sesungguhnya persoalannya dimulai dengan hal yang kecil, misalnya lupa mengunci pintu rumah, ketemu mantan pacar di gereja dan sebagainya. Yang paling penting diperhatikan di dalam pertengkaran itu adalah hendaknya kita mempunyai prinsip bahwa kejadian itu harus selesai sebelum matahari terbenam, sesuai dengan prinsip Alkitab. Jangan pernah terucap kata “minta cerai” tehadap pasangannya, karena ini sangat menyakitkan, apalagi sampai yang wanita membawa koper kembali ke rumah orang tua. Syukur kalau sang suami mau jemput anda pulang, kalau sama-sama gengsinya, maka akan timbul perceraian.
Seorang teman saya baru-baru ini pernah menceritakan tentang keluarganya, beliau pertama menikah sering sekali bertengkar, karena selain pacarannya secara kilat dan ia menemukan banyak perbedaan di antara mereka berdua. Namun ia harus belajar tahan menghadapi kenyataan hidup ini. Sekarang anak mereka sudah dua dan hidup bahagia.

D. Penyiksaan
Masalah penyiksaan ini sering juga terungkap terhadap beberapa pasangan pernikahan yang pada mulanya di luar dugaan mereka. Ada yang karena kelainan seks sehingga ia akan merasa terangsang apabila degan menyakiti pasangannya, bila perlu sampai tubuhnya terluka-luka. Ada yang sering memukul pasangannya apabila terjadi pertengkaran dan tidak jarang mengluarkan benda-benda tajam untuk mengancam pasangannya. Nah kalau ini terus-menerus terjadi bagaimana keluarga ini dapat bertahan? Wajarnya memang keadaan seperti ini tidak boleh terjadi terhadap pasangan suami-istri, tetapi kenyataannya ada keluarga yang menghadapi demikian.Saya pernah menemukan seorang wanita yang sering dipukul oleh suami pada waktu muda, sekarang ia seperti orang gila karena stress. Ia berusaha menahan, sabar, tetap mau bersatu, namun orang-orang tidak mengerti dia, dan akhirnya ia seperti hampir gila. Bagi yang tidak tahan maka, ia akan mengambil langkah terakhir yakni perceraian. Seandainya perceraian merupakan alternatif terakhir, maka sebagai konsekwensinya ia harus tetap membujang ( lihat 1 Korintus 7:10-11 dan Matius 19:9). Seorang ahli psikologi menyarankan bahwa kalau anda sampai menemukan pasangan yang demikian, hendaknya tindakan yang diambil pertama kali bukan bercerai, namun bagaimana mengobati penyakit ini. Mungkin caranya harus berpisah untuk “sementara waktu” atau bagaimana; namun disarankan hendaknya dikonsultasikan dengan para ahli.

E. Sakit / cacat tubuh
Sebenarnya masalah sakit penyakit bukan merupakan alasan bagi sesorang untuk bercerai. Ada banyak pasangan yang penuh kesabaran merawat sang suami atau istri yang karena sesuatu penyakit harus berbaring cukup lama di tempat tidur bahkan samapi akhir riwayat hidupnya. Di sinilah letak kesetiaan seseorang terhadap pasangannya diuji. Sesuai dengan janji pernikahkan maka sakit penyakit bahkan sampai cacat bukan merupakan alasan seseorang untuk bercerai. Sebab bagi orang percaya kita harus menerima kenyataan ini, walaupun pahit seperti empedu. Berdoalah minta kekeuatan dari Tuhan, supaya ada kekuatan mengahadapi persoalan-persoalan yang sukar.

F. Perbedaan agama
Memang tidak semua pasangan sampai bercerai karena masalah perbedaan agama. Banyak pasangan justru bisa membawa pasangannya kepada Kristus. Tetapi kita tidak menutup kenyataan ada pasanagn tertentu yang mengalami kesulitan akibat perbedaan agama. Terutama mereka yang sebagai istri. Sebelum menikah masih ada kelonggaran boleh ikut kebaktian maupun pelayanan, tetapi setelah menikah mulailah dibatasi; sampai akhirnya hadir ke kebaktianpun tidak boleh. Inilah yang bisa menyebabkan pasangan suami-istri itu bubar.

Oleh sebab itu sesuai dengan petunjuk firman Tuhan, maka idealnya setiap anak Tuhan harus memilih pasangannya yang juga percaya kepada Tuhan Yesus, supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi. Namun apabila sudah terlanjur menikah, cobalah kita berdoa buat pasangan kita ini; sambil tetap bertahan terhadap iman kepercayaan kita. Jadilah teladan melalui hidup kita sehari-hari, sebab dengan cara demikian kita akan bersaksi secara tidak langsung.

Resiko Sebuah Perceraian
1. Khususnya bagi anak-anak mereka, kemungkinan besar menjadi terlantar. Mengapa tidak? Sebab ketika ayah dan ibu mereka kawin lagi dengan orang lain, maka mereka telah memperoleh apa yang disebut ayah atau ibu tiri. Sebaik-baiknya ayah atau ibu tiri pasti beda dengan yang kandung. Memang ada yang baik sekali, tetapi tidak 100% bukan? Apalagi pada saat mereka menikah, pasanagan yang lain masih hidup. Pertengkaran selalu cenderung terjadi, terutama terhadap pasangannya yang lama; dan hal ini sanagt menyusahkan anak-anak. Mereka akan menjadi malau, rendah diri dan sebagainya.

2. Perceraian menimbulkan suatu luka yang tidak mungkin disembuhkan. Ini diibaratkan dengan cinta yang terkoyak-koyak, sangat sulit untuk dilekatkan kembali. Pasti ada bekasnya.

Menimbang Resiko yang Bakal Terjadi:
1. Senang atau tidak senangkah Allah?
Jelas Allah tidak pernah senang akan perceraian, sebab di dlaam Alkitab tertulis apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.

2. Membawa pengaruh buruk bagi orang lain, anak-anak, orang tua sanak keluarga.
Secara psikologi perkembangan anak sangat terpengaruh, apalagi para tetangga yang suka gosip ditambah dengan teman-teman sekolah yang suka mengejek, hal ini pasti sangat mengganggu mereka. Anak-anak akan merasa tertekan, kurangnya kasih sayang dan akhirnya cenderung mereaka berontak untuk mencari perhatian dan menjadi brutal. Tidak jarang mereka yang terjerumus di dalam Narkoba ini adalah anak-anaka yang kelurganya bermasalah.

3. Sungguhkah ini menyelesaikan masalah atau justru menciptakan masalah baru.
Jelas perceraian menimbulkan masalah baru, karena kasih sayang yang semuala utuh sekarang retak. Belum lagi ditambah dengan penderitaan yang bakal dialami oleh anaka-anak. Mereka merasa rendah diri, takut diejek teman, malau pada guru, tetangga serta handai-taulan, sebab peristiwa orang tuanya selalu diungkit kembali tatkala mereka berada dilingkungan yang mengenalnya. Mungkin tidak secara langsung, tetapi biasanya dengan berbisik orang-orang sekitar akan membicarakan masalah perceraian orang tua mereka itu. Inilah maslaha baru yang senantiasa dihadapi anak-anak yang orang tuanya bercerai.

4. Perceraian adalah suatu pengalaman emosional buruk yang membekas sangat dalam. Perceraian membuat retak sebuah kasih yang sudah terjalain, di situ ada sakit hati, dendam, benci, kemarahan dan sebagiainya, dan semua itu mebekasa sanagt mendalam serta tidak mungkin terlupakan. Mungkin bagi mereka yang bercerai mengatakan bahwa pa yang sudah terjadi telah dilupakan, namun sesungguhnya mereka terus menerius mengingatnya. Kesedihan, penyesalan tidak pernah terhenti walaupun sesunggguhnya mereka telah mendapat pasangan yang baru.

Mencegah sebuah Perceraian
1. Mulai mencari jalan keluar dengan penuh rendah hati, dan mengampuni. (lih Mat 18:21,22) Dalam hal mengampuni ini tidqa gampang, apalagi didapati pasangan suami istri itu terdapat perselingkuhan. Adanya orang ke tiga, yang biasanya disebut WIL atau PIL (Wanita/Pria Idaman Lain).

2. Mengalah, berapa lama? Apa batasnya? Seandainya di dalam keluarga terjadi pertengkaran, salah satu pasang harus berusaha mengalah untuk meredahkan emosi yang lebih memuncak lagi. Apabila keduanya saling ngotot tidak mau mengalah, maka resiko untuk mencapai perceraian sangat terbuka. Sebab di saat emosi sesorang akan mengambil keputusan-keputusan yang tidak rasionil dan sering kalai menyakiti hati orang lain.. Menurut pengajaran Tuhan Yesus, setiap orang yang percaya diminta mengalah dan itu tanpa batas.

Sikap Gereja, Bagaimana?
Sebelum pasangan suami isteri diteguhkan dalam ikatan pernikahan, terlebih dahulu gereja sudah harus menamamkan prinsip Alkitab dalam rencana pernikahan mereka. Itulah sebabnya ada semacam katekisasi atau konseling pra-nikah. Di gereja tertentu malah dilengkapi dengan pemriksaan medis. Konseling pra-nikah dimaksudkna agar seandainya kalau pasangan tersebut memang tidak cocok, mereka diberikan kesempatan untuk berpisah atau mencari pasangan yang lain. Dengan demikian mereka tidak akan mengalami penderitaan dalam pernikahan mereka yang membawa kepada perceraian.Gereja harus bersikap tidak mengenal adanya perceraian, dan ini harus konsisten. Sering terjadi misalnya di gereja si A tidak diijinkan untuk diberkati karena kasus perceraian, namun orang tersebut pergi ke gereja B tidak masalah, bahkan pemberkatan bisa dilaksanakan di gereja tersebut. Dengan cara yang demikian jemaat itu merasa bingung akan pengajaran hamba Tuhan yang satu dengan yang lain, tidak sama. Walaupun sesungguhnya masalah boleh atau tidak boleh diberkati di gereja tidak menyangkut masalah keselamatan, tetapi biarlah wibawa gereja tetap dapat ditegakkan, karena kita hormati bahwa gereja adalah tempat yang kudus. Oleh sebab itu sanksi ini hendaknya dipertahankan, supaya setiap pasangan sungguh-sungguh menjaga keutuhan pernikahan. Jikalau memang ada masalah atau konflik dalam keluarga, hendaklah secepatnya diselesaikan dengan baik. Jangan terbawa berlarut-larut sehingga menumpuk seperti gunung es batu yang kokoh.

Berusahalah sekuat mungkin menghindari perceraian, namun kejarlah perdamaian dengan pertolongan kasih sayang Allah kita. Kepada orang tua diharapkan supaya turut membantu memelihara keutuhan keluarga anda, masa depan anak-anak pasti terganggu dengan orang tuanya yang bercerai. Bagi yang belum menikah pikirkanlah secara matang untuk mengambil keputusan nikah. Jangan kita menelantarkan orang lain khususnya anak-anak yang tidak tahu-menahu akan persoalan orang tuanya. Kasihan!

Source: Kabarinews

Tentang b4r12y

simple guys
Pos ini dipublikasikan di Renungan kehidupan, Tips Berkeluarga, Tips Orang Tua dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s